Rabu, 13 September 2017

penampilan

PENAMPILAN  SANGAT PENRING


"Clothes make the man. I believe that. You say to me you want to go shopping, you want to buy clothes, but you don't know what kind. You leave that hanging in the air, like I'm supposed to fill in the blank. That to me is like asking me who you are... and I don't know who you are.

Kutipan di atas merupakan celotehan seorang sopir limosin yang mengobrol dengan Tom Hanks dalam sebuah film komedi klasik tahun 90an, Joe Versus The Volcano. Sayang sekali film itu sendiri tidak pernah dianggap populer, apalagi masuk ke jajaran box office, karena cukup satu baris sederhana tersebut menyimpan dua rahasia glosifikasi bagi Anda yang ingin memperbaiki persepsi orang akan diri Anda. Oh ya, artikel yang Anda baca sekarang ini juga ditampilkan dalam majalah Gadget Indonesia edisi Agustus 2010. 

RAHASIA PERTAMA: CLOTHES MAKE THE MAN. Entah itu dalam bidang karir, kehidupan sosial, atau bahkan romansa, Anda akan selalu dinilai berdasarkan penampilan Anda. Kita memang dibesarkan agar tidak menilai buku dari sampulnya, namun jujur saja itu nasihat yang sangat tidak praktis karena hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah mendapat kesempatan untuk mengenal Anda secara pribadi. 

Hanya diperlukan waktu setengah sampai tiga puluh detik bagi mereka untuk menjatuhkan vonis penilaian pada diri Anda. Begitu impresi pertama itu tercipta, nyaris tidak mungkin bagi mereka untuk mengubah pikiran. Coba renungkan sejenak berapa banyak tawaran yang gagal Anda raih dan kesempatan yang lewat begitu saja karena pribadi Anda divonis berdasarkan penampilan yang kurang menarik?

Salah satu alasan utama banyak pria tampil generik, dangkal dan membosankan adalah karena mereka tidak percaya bahwa mereka layak tampil sebaliknya. Mereka tidak percaya bahwa pria juga memiliki hak yang sama untuk bermain di dunia fashion sama seperti wanita. Mereka tidak percaya bahwa pria juga dapat memakai warna-warna cerah tanpa terlihat cheesy. Mereka tidak percaya bahwa selain jaket, cardiganjuga dapat mengesankan citra yang dewasa berkelas ketika dikombinasikan kemeja berdasi. Mereka tidak percaya ini dan itu, mereka takut ini dan itu. Padahal saat ini konsep dunia tentang pakaian sudah bergeser jauh dari jaman Adam dan Hawa dahulu. 

Pakaian yang Anda kenakan bukan lagi sekedar alat penutup tubuh, melainkan perpanjangan dari kepribadian Anda. 

Baca ulang kalimat di atas sekali lagi, kali ini dengan suara yang lantang.

Jika merasa diri keren, Anda pasti akan bersedia mengekspresikan diri itu dalam bentuk yang lebih visual. Anda tidak akan melulu bersenjatakan kaos, kemeja, dan celana berwarna gelap seperti yang menjadi kostum standar kebanyakan pria. Bayangkan seperti ini, jika Anda memiliki anak nanti, pasti Anda akan menyiapkan set pakaian yang terbaik untuknya. Anda begitu menyayanginya sehingga tidak mau dia tampil berantakan. Nah, mengapa Anda tidak melakukannya pada diri sendiri dulu mulai sekarang?

Sekali lagi, pria yang masa bodoh dengan penampilannya adalah pria yang minder. Mereka tidak merasa dirinya pantas menjadi sorotan mata semua orang. Mereka takut untuk tampil menawan dan bersembunyi dibalik alasan, "Saya lebih suka jadi be my self, dan inilah diri saya apa adanya." 

Siapa yang suruh Anda menjadi orang lain? 

Saya hanya menganjurkan Anda untuk mempertajam kepribadian Anda agar terlihat lebih vokal, terang, tajam, dan menyala. Bukan sekedar kebetulan kalau dalam Hitman System kita menyebut 'pria berkualitas' dengan istilah Glossy. Anda memang wajib menjadi terang dunia yang bersinar, sobat!

Bisa jadi Anda adalah pribadi yang cuek santai, namun jangan biarkan gambaran karakter itu menjadi penghambat kesuksesan Anda ketika berinteraksi dengan orang lain. Apalagi dalam lingkungan pekerjaan yang profesional dimana Anda diwajibkan untuk tampil profesional. Sama seperti itu, dalam pergaulan sosial, pria berkualitas pasti akan sadar diri untuk memilih penampilan yang berkualitas. 

Perhatikan pakaian yang Anda kenakan sehari-hari, itulah gambaran sebenarnya bagaimana cara Anda memandang kualitas diri Anda sendiri. Penampilan yang asal-asalan menunjukkan kepribadian yang asal-asalan.

Anda jawab sendiri, apakah wanita senang dengan pria berkepribadian seperti itu?

Seperti sudah dijelaskan oleh Yuki dalam artikel 10 Tips Penampilan Menarik, buang jauh-jauh konsep be yourself karena yang seharusnya Anda miliki adalah be your best self, yaitu sebuah perjalanan untuk menampilkan citra diri Anda yang terbaik. Itu sebabnya Anda perlu meminta teman wanita menemani Anda berbelanja. Sebab kalaupun mereka meleset dalam memilihkan item, saya yakin itu masih akan jauh lebih bagus daripada pilihan Anda sendiri yang kemungkinan besar berkutat di model yang begitu-begitu saja. 

Sadarkah bahwa rasa percaya diri Anda berbanding lurus dengan seberapa jauh Anda merepresentasikan tubuh Anda? Karena apa yang Anda kenakan bukan saja mempengaruhi persepsi orang lain, namun pertama kali jauh mempengaruhi diri Anda sendiri. Semakin sedikit energi, waktu dan biaya yang Anda berikan pada tubuh Anda, semakin Anda sulit merasa puas atau bangga terhadap diri sendiri. Kalau tidak percaya, telurusi perbedaan emosi yang dialami ketika Anda memakai sepatu baru dan sepatu lama yang sudah usang.

Fenomena di atas merupakan aplikasi dari ucapan bijak, "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Jadi saat Anda menanam banyak sekali investasi pada diri sendiri (dengan set penampilan yang terbaik), Anda semakin terkondisi untuk lebih mencintai diri sendiri. Ini juga salah satu bagian yang sudah saya jelaskan pada artikel Rahasia Struktur Pria Menarik tempo hari, yakni pentingnya memberikan atensi pada diri sendiri.

Ketika Anda berbusana busana dengan menarik, maka Anda dengan sendirinya mengalami peningkatan rasa percaya diri. Ingat bahwa busana tidak hanya terbatas pada pakaian saja, tapi keseluruhan yang kita pakai mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Keindahan penampilan busana fisik Anda kenakan akan memoles keadaan psikis Anda, karena when you look good, you feel good

Silakan buktikan formula itu dengan memperhatikan sekeliling Anda sekarang juga. Orang-orang yang berpenampilan baik pasti memancarkan aura yang berbeda. Mata mereka seperti bersinar menatap dengan tajam. Langkah kaki mereka terlihat mantap dan penuh tujuan. Mereka duduk, berdiri dan bergerak dengan postur yang lebih berkharisma. Mereka yang tampil demikian nyaris otomatis lebih bersemangat untuk meraih sukses dibandingkan orang lainnya yang cenderung tidak memperhatikan penampilan mereka.   

Itu sebabnya ada istilah fashion statement, karena apa yang Anda kenakan (termasuk cara mengenakannya) akan menciptakan pesan dan situasi yang berbeda-beda. Wanita juga akan memperlakukan Anda berbeda-beda sesuai dengan gaya penampilan Anda. Silakan bereksperimen dengan satu trik sederhana ini Seusai jam kantor, lepaskan satu kacing teratas (atau dua jika dada Anda tidak terlalu berbulu) kemeja Anda. Rasakan bagaimana dengan sendirinya Anda merasa terdorong jadi santai, berani, sekaligus seksi, serta wanita bersikap lebih bersahabat dan banyak tersenyum dibanding sebelumnya. 

RAHASIA KEDUA: KNOW WHO YOU ARE. Kenali diri Anda sendiri, luar dan dalam, maka Anda dapat dengan mudah memilih jenis pakaian seperti apa yang dibutuhkan. Perhatikan bahwa setiap set fashionwanita dirancang sedemikian rupa untuk menonjolkan estetika sensualitas, itu karena mereka semenjak usia dini terbiasa untuk embracing and actualizing esensi wanita feminin. 

Jadi seni mengenali diri dimulai dengan memahami esensi dari seorang pria: yakni maskulinitas atau kejantanan. Anda perlu mengaktualisasikan esensi tersebut pada jenis baju, celana, sepatu, dan asesoris lainnya yang menempel pada tubuh. Caranya adalah cek lemari pakaian Anda dan sisihkan seluruh set pakaian yang sekedar berfungsi sebagai alat penutup tubuh, tidak terlihat jantan, atau apapun yang tidak membuat Anda tersenyum bangga ketika melihat refleksi di kaca. Kalau perlu, buang saja tumpukan itu agar Anda terpaksa membeli set yang baru. 

Saya biasa melarang Anda untuk membaca tips percintaan di majalah karena cenderung membuat Anda lossy. Namun khusus untuk penampilan, Anda justru wajib meluangkan waktu untuk memperhatikan tips-tips dari majalah dan internet. Salah satu referensi awal yang bisa ditelusuri adalah situs Fashion Pria yang kebetulan dikelola oleh alumni Hitman System. Pelajari seluk beluk sebisa mungkin sambil terus selami sisi maskulinitas Anda hingga bersinar. 

Latihan visualisasi berikut juga dapat membantu: pejamkan mata, bayangkan diri Anda sebagai sosok maskulin yang sempurna, dan renungkan jenis penampilan seperti apa yang cocok dipakai oleh pria yang seperti itu. Lalu mulai sekarang penuhi lemari Anda dengan set pakaian dan atribut yang sesuai dengan imajinasi Anda tersebut. 

Pengenalan akan diri internal di atas juga perlu dilengkapi dengan pemahaman diri eksternal alias bentuk fisik Anda. Luangkan lebih banyak waktu di depan cermin setiap harinya agar Anda bisa mengenali dengan pasti properti tubuh Anda, terutama bentuk dan ukurannya. Semakin sering melakukannya, semakin Anda merasa layak untuk menyayanginya; persis pepatah "tidak kenal, maka tidak sayang." 

Jika Anda tidak sepenuhnya menyayangi tubuh Anda, wajar saja Anda merasa aneh dan canggung ketika dihadapkan dengan ratusan baju yang berjejer, ditambah lagi ketika sang pramuniaga datang menghampiri. Penampilan terbaik bukanlah tentang gaya yang sedang populer, rancangan desainer ternama, apalagi harga yang termahal. Penampilan terbaik adalah set item yang sedemikian pas dengan tubuh sehingga seolah-olah ia tercipta secara khusus untuk Anda seorang. Dan jelas untuk bisa menemukannya, Anda perlu dedikasi waktu yang tidak sedikit. 

Kebanyakan pria tidak menyadari (boro-boro menyukai) properti tubuhnya sendiri, dan masih harus diperparah lagi dengan kebiasaan buruk ini ketika berbelanja: sekedar mengangkat baju yang biasanya tergantung pada hanger, dilihat bagian depan dan belakang sambil membayangkan kalau dipakai, lalu ditaruh kembali ke rak. Semua dilakukan dengan sangat cepat, seolah-olah setiap toko membatasi durasi waktu berkeliling melihat seluruh koleksinya dan bahkan menagih biaya jika Anda menggunakan fitting room




Hasil gambar untuk GAMBAR PENAMPILAN PEREMPUAN sopan
Hasil gambar untuk GAMBAR PENAMPILAN PEREMPUAN sopan





Rabu, 06 September 2017

sejarah

JENIS SEPATU HIGH HEELS


Sejarah dan Perkembangan Sepatu High Heels

Sepatu High Heels Sejarah dan Perkembangannya dari Masa ke Masa
Sepatu High heels, telah lama menjadi bahan diskusi dan perdebatan. Sepatu secara umum menjadi tanda penanda gender, kelas, ras, dan etnis, dan sepatu seringkali digunakan sebagai simbol kesuburan, hal ini dibuktikan dalam praktek kontemporer salah satu ritual perkawinan yait S u tradisi mengikat sepatu untuk pasangan pengantin baru ketika berada di mobil. Dokter dan para ahli sama-sama berpendapat tentang efek Sepatu high heels pada fisik dan budaya, baik positif maupun negatif, yang memakaisepatu heels tidak hanya wanita, tetapi pada masyarakat secara keseluruhan.
Sejarah Awal Mula ditemukannya Sepatu High heels
Sebagian besar kelas bawah di Mesir kuno berjalan tanpa alas kaki, tetapi mulai dari 3500 SM versi awal sepatu, telah dipakai oleh sebagian besar masyarakat kelas atas. Sepatu ini adalah potongan kulit diikat dengan benang yang diatur sedemikian rupa agar terlihat seperti simbol “Ankh,” yang mewakili kehidupan. Tapi ada juga beberapa penggambaran, laki-laki kelas atas dan perempuan mengenakan sepatu ber-hak, mungkin untuk tujuan upacara. Tukang Jagal Mesir juga mengenakan sepatu high heels, untuk membantu mereka berjalan di atas darah binatang mati. Di Yunani kuno dan Roma, sandal platform yang disebut kothorni, kemudian dikenal sebagai buskins di Renaissance, adalah sepatu dengan sol kayu tinggi atau gabus yang populer terutama di kalangan aktor, yang akan memakai sepatu dengan tinggi yang berbeda untuk menunjukkan berbagai status sosial dan pentingnya karakter berdasarkan hak sepatu. Di Roma kuno, perdagangan seks atau pelacur ilegal dan perempuan mudah diidentifikasi dengan sepatu High heels mereka.
Chopines, atau platform shoes, diciptakan di Turki pada tahun 1400-an, dan populer di seluruh Eropa sampai pertengahan 1600-an.
Selama Abad Pertengahan, baik pria maupun wanita memakai pattens, atau sol kayu, yang jelas sepatu berhak tinggi. Pattens akan diperlihatkan dengan sepatu rapuh dan mahal untuk menjaga mereka yang mengenakannya dari lumpur dan debu maupun puing-puing yang berserakan ketika berjalan di luar. Pada tahun 1400, chopines atau platform shoes, diciptakan di Turki dan populer di seluruh Eropa sampai pertengahan 1600-an. Chopines bisa tujuh sampai delapan atau bahkan 30 inci tingginya, membutuhkan tongkat atau pelayan untuk membantu mereka berjalan. Seperti pattens, chopines yang merupakan sepatu tinggi, tetapi tidak seperti pattens, chopines dipakai secara eksklusif untuk perempuan. Sepatu ini biasanya dirancang dengan gabus atau kayu yang ditumpuk sebagai hak sepatu.
Orang-orang Venesia membuat chopine menjadi simbol status kekayaan dan kedudukan sosial bagi perempuan, dan wisatawan yang berkunjung ke Venesia sering berkata sambil bercanda “chopines terlalu tinggi”. Salah seorang pengunjung mencatat bahwa sepatu ini “diciptakan oleh suami yang mengisyaratkan hubungan yang rumit antara kedudukan sosial. Di Cina sepatu dikaitkan dengan masalah dominasi dan kedudukan. Contohnya, selir Cina dan odalisques Turki mengenakan sepatu high heels, yang kemudian mendorong para sarjana untuk berspekulasi jika hak sepatu yang digunakan tidak hanya untuk alasan estetika, tetapi juga untuk mencegah perempuan melarikan diri dari harem.
Sepatu mulai dibuat dalam dua bagian selama tahun 1500-an, dengan bagian atas yang fleksibel dan lebih berat.. Sepatu baru ini menyebabkan hak sepatu sebagai bagian sebenarnya sepatu bukan hanya sebagai sepatu bagian luar saja. Hak sepatu tumbuh dalam popularitas selama tahun 1500-an untuk menjaga pengendara, baik pria maupun wanita, dari tergelincir dari pelana. “High heels pengendara” ini awalnya 1-1½ inci tingginya dan mirip boot berkuda modern dan koboi booting. High heels sederhana segera populer memberi jalan untuk hak sepatu lebih bergaya yang lebih tinggi dan lebih tipis pada pertengahan 1500-an setelah Catherine de Medici membuat mereka lebih modis daripada fungsional. Pengenalan High heels dan kesulitannya pun bertambah seiring pembuatan gambar desain (cetakan kaki digunakan untuk membuat sepatu) menyebabkan pembuat sepatu untuk menciptakan “sepatu lurus” atau sepatu yang bisa muat baik kaki kiri atau kanan (Mitchell 1997). Sepatu kanan dan kiri atau sepatu lurus akhirnya kembali populer pada permulaan 1800-an  ketika high heels ditinggalkan.
Penemuan formal sepatu High heels sebagai mode biasanya dikaitkan dengan Catherine de Medici (1519-1589). Pada usia 14, Catherine de Medici bertunangan dengan Duke Orleans yang tinggi, yang menjadi Raja Perancis. Catherine kecil (tidak sampai lima meter) tinggi yang relatif dibawah Duke dan hampir tidak dianggap cantik. Dia merasa tidak aman dalam pernikahan yang diatur,  tahu dia akan menjadi Ratu Pengadilan Perancis dan bersaing dengan favorit (dan secara signifikan lebih tinggi darinya) – nyonya Duke, Diane de Poitiers. Dia mencari cara untuk membuat taktub bangsa Perancis dan mengkompensasi estetika yang dirasakan kurang, dia mengenakan sepatu High heels dua inci yang memberinya fisik yang lebih menjulang dan bergoyang memikat saat dia berjalan. Sepatu High heelsnya yang sukses segera dikaitkan dengan hak istimewa. Mary Tudor, atau “Bloody Mary,” raja lain yang berusaha istilahnya “untuk tampil lebih besar dari kehidupan”, mungkin dengan mengenakan sepatu hak setinggi mungkin. Pada 1580, lahirlah heels yang populer untuk kedua jenis kelamin, untuk orang yang menggunakannya dianggap memiliki otoritas atau kekayaan yang sering disebut sebagai “orang yang makmur.”
Pada awal 1700-an, Raja Perancis Louis XIV menyatakan bahwa hanya bangsawan yang bisa mengenakan sepatu hak yang berwarna merah setinggi lima inci dan bahwa tidak ada yang boleh lebih tinggi dibandingkan dia sendiri.  Selama berabad abad, semacam budaya fetisisme kaki, terwujud dalam berbagai media. Sebagai contoh, di bawah pengaruh usang – gaya dekoratif dan ornamental berbasis pengadilan, hak sepatu menjadi lebih tinggi dan lebih ramping, sebuah langkah yang melengkapi gaya pengadilan yang sangat feminin. Selain itu, novelis Restif de Bretonne melemparkan penekanan erotis pada kaki halus melengkung dan high heel halus melengkung. Akibatnya, banyak perempuan dikaitkan dengan kaki mereka untuk menyamarkan ukuran kaki/tinggi badana nyata mereka. Seperti korset, sepatu High heels dipahat tubuh untuk membuatnya tampak lebih aristokrat, murni, halus, dan diinginkan. “Yang diinginkan dan seksual “, sifat hak sepatu tinggi juga dicatat oleh kaum Puritan di Dunia Baru. The Massachusetts Colony bahkan mengesahkan undang-undang melarang wanita mengenakan high heels untuk menjerat seorang pria atau mereka akan diadili sebagai penyihir. Tetapi hal ini tidak berlanjut sampai pertengahan 1800-an ketika Amerika menyusul Eropa dalam mode sepatu.
Pada 1791, “Louis” high heels menghilang seiring revolusi, dan sepatu High heels Napoleon dibuang dalam upaya untuk menunjukkan kesetaraan. Sesuai dengan kode Napoleon, pada tahun 1793 Marie Antoinette yang akan dieksekusi mengenakan sepatu hak dua inci. Heels sepatu menurun pesat pada tahun 1790-an sampai dikurangi menjadi wedge belaka atau diganti dengan hak sepatu musim semi, yang merupakan satu lapisan kulit dimasukkan tepat di atas satu-satunya di bagian belakang sepatu. Sepatu ini tipis dan sering dipakai dengan pita untuk menyeberang, mengingatkan pada sandal klasik Romawi. Runtuhnya kejayaan hak sepatu memudahkan sepatu lurus untuk dibuat. Dari periode ini untuk tahun 1930-an, ada empat jenis utama dari hak sepatu yang digunakan pada sepatu wanita Barat: knock-on, hak ditumpuk, musim semi, dan munculnya kembali hak sepatu “Louis”.
Pada 1860-an, sepatu ber-heels sebagai mode menjadi populer lagi, dan penemuan mesin jahit memperbolehkan variasi yang lebih besar dalam membuat desain sepatu High heels.
Dalam seni dan sastra Victorian, kartun dan sindiran untuk kaki kecil dan penderitaan kaki besar (khas perawan tua) yang ada di mana-mana.
Victoria berpikir bahwa High heelsmenekankan lengkungan punggung kaki, yang dipandang sebagai simbol dari keindahan lengkungan seorang wanita. High heels juga dipakai sebagai penanda bangsawan dari Eropa, sedangkan “tipe kaki terendah,” datang dari daerah Afrika Amerika, memiliki sedikit atau tidak ada punggung kaki. Ketika sepatu High heels membuat comeback mereka, beberapa pemakai merasa nyaman memakai lima atau bahkan enam inci hak sepatu. Seperti korset, sepatu High heels yang diklaim tidak hanya berbahaya, tetapi bermanfaat bagi kesehatan karena sepatu High heels membantu meringankan sakit punggung dan membuat berjalan tidak melelahkan. Tapi kritikus menyebutkan bahwa high heels menciptakan gaya lebih agresif secara seksual – bahwa  high heels dibuat seperti “kail beracun” untuk menangkap laki-laki yang agresif. Beberapa bahkan menyebutkan sepatu high heels yang seperti  kuku terbelah merupakan tanda dari setan atau penyihir. Walaupun dengan adanya kritik ini,  Amerika tetap membuka pabrik hak sepatu pertama pada tahun 1888. Namun, Amerika dan negara-negara Eropa lainnya sebagian besar masih meniru fashion sepatu dari Prancis.
Sementara sepatu High heels menikmati popularitas yang luas di akhir abad ke-19 belas, wanita awal abad ke-20 menuntut sepatu yang lebih nyaman, sepatu bersol datar. Depresi selama tahun 1930 dipengaruhi oleh sepatu mode Barat seperti hak sepatu menjadi lebih rendah dan lebih luas. Di Hollywood, hak sepatu mendapat tampilan baru  yang elegan. Artis seperti Ginger Roger dengan sepatu putih dan hak berkilauan mulai menantang pengaruh Perancis dengan sepatu fashion dari Barat. Pada tahun 1940, akibat dari barang-barang mewah yang rendah pasokannya sebagai efek samping dari Perang Dunia II mendorong sepatu High heels untuk cenderung memiliki heels cukup tinggi dan tebal saja.
Kebangkitan fashion tinggi Barat pada tahun 1950 pasca-perang dipimpin oleh desainer Perancis Christian Dior dan kolaborasi dengan desainer sepatu Roger Vivier.
Bersama-sama mereka mengembangkan vamp (bagian dari sepatu yang menutupi kaki dan punggung kaki) berpotongan rendah, sepatu “Louis” dengan hak sepatu sempit yang disebut stiletto, yang adalah kata Italia untuk belati kecil dan ramping. Pertama, disebutkan dalam Telegram London Daily pada tanggal 10 September 1953, dan disebutkan secara berlebihan, hak sepatu ramping dan ketinggian penyempitan jari kaki  sangat dihubungkan dengan simbol phallus ereksi dan pematangan seksual. Stiletto sering dilarang digunakan di bangunan umum karena sering menyebabkan kerusakan fisik pada lantai.

hal yang paling diperhatikan pada wanita pada penampilan

SEPATU HEELS

SEJARA SEPATU HEELS


Mulai Ada Sejak 3500 SM

Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels

Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.

High Heels Berkembang Di Abad 12

Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels

Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels pertama pada abad tersebut digunakan oleh para Ksatria Richard the Lionheart, yang menggunakan sepatu heels dengan ujung kaki runcing. Ujung sepatu yang runcing dianggap memudahkan saat mereka menaiki kuda. Sedangkan, heels membuat pijakan lebih baik saat berkuda.

Bloody Mary Membuat Heels Populer Bagi Wanita Di Abad 16

Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels

Sepatu high heels mulai populer di kalangan wanita pada abad ke-16, ketika peraih Nobel Italia Catherine d’Medici menggunakannya saat hari pernikahannya. Sementara, di Inggris, Ratu Mary (atau  dikenal bloody Mary) menyebarkan tren penggunaan heels yang akhirnya diikuti oleh banyak wanita bahkan  pria.

Ratu Victoria Membuat High Heels Boot Populer


Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels
Di abad 19, Ratu Victoria menjadi wanita pertama yang terlihat menggunakan high heels boot, dan mulai populer menjadi tren fesyen. Selama periode ini, mesin jahit juga telah ditemukan, di mana high heels semakin mudah dan murah untuk dibuat, yang akhirnya membuat lebih banyak orang bisa menggunakannya.

Heels Semakin Populer Sampai Tahun 1900-An

Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels

Setelah sejarah cukup panjang di awal, di mana heels digunakan baik oleh pria atau wanita. Semakin ke sini, heels bagi wanita lebih diciptakan sangat feminin, dan para pria pun mulai beralih menggunakan  sepatu yang lebih praktis dan nyaman.

Revolusi Heels Di Abad Ke 20

Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels

Pada abad ke-20 dengan teknik pembuatan manufaktur modern, tak bisa dimungkiri, jika heels semakin populer dan mudah didapatkan banyak orang. High heels stiletto pun diciptakan oleh desainer Prancis  Roger Vivier pada tahun 1955. Artis papan atas di masa itu, seperti Marylin Monroe dan Audrey Hepburn pun kerap terlihat menggunakan heels. Secara tak langsung, menempatkan high heels wajib digunakan para wanita.

Abad 21 Dan High Heels Masa Kini


Sejarah dan Perkembangan High Heels  Fashion dan wanita adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Bagi fashionista, salah satu items yang wajib ada adalah high heels atau sepatu hak tinggi. High heels merupakan sepatu yang menaikan tumit penggunanya jauh lebih tinggi dari ujung jarinya. Christian Louboutin, Jimmy Choo adalah salah satu designer yang tidak asing lagi dalam hal high heels. Tapi apakah Anda mengetahuinya, asal usul dari sepatu hak tinggi tersebut? Berikut ulasannya: Mulai ada sejak 3500 SM    Pada waktu itulah pertama kalinya high heels lahir dan ditemukan di Mesir, di mana ada bukti gambar para orang Mesir Kuno menggunakan heels berjenjang saat berada di bangunan kuno. High heels juga digunakan oleh sang Raja untuk lebih terlihat tinggi dan kuat dibandingkan pasukannya. Praktis digunakan saat Abad Pertengahan Abad pertengahan merupakan masa di mana terdapat wabah pes dan semua orang berupaya untuk melakukan  bersih-bersih di rumah, termasuk menggunakan alas kaki sebagai pelindung semaksimal mungkin saat berada  di jalan. Maka tak heran, jika heels menjadi sangat populer pada masa itu.  High heels berkembang di abad 12    Pada abad ini, alas kaki high heels mulai berkembang menjadi item fesyen hingga sekarang. Sepatu jenis heels

Inilah masa kita sekarang. High heels modern semakin menjadi tren di mana-mana, dan thanks to TV shows Sex and the City yang semakin memantapkan tren tersebut di dunia fesyen dan hiburan. Revolusi high heels bagi para wanita diciptakan semakin kreatif dengan berbagai aksen dan aplikasi bahan serta hiasan. Kemana pun anda pergi, high heels selalu menjadi item favorit kebanyakan wanita untuk digunakan.

Rabu, 30 Agustus 2017

APAKAH PENAMPILAN ITU PENTING BAGI SEORANG WANITA

PENUJANG FASHION PADA PEREMPUAN 




"Clothes make the man. I believe that. You say to me you want to go shopping, you want to buy clothes, but you don't know what kind. You leave that hanging in the air, like I'm supposed to fill in the blank. That to me is like asking me who you are... and I don't know who you are."

Kutipan di atas merupakan celotehan seorang sopir limosin yang mengobrol dengan Tom Hanks dalam sebuah film komedi klasik tahun 90an, Joe Versus The Volcano. Sayang sekali film itu sendiri tidak pernah dianggap populer, apalagi masuk ke jajaran box office, karena cukup satu baris sederhana tersebut menyimpan dua rahasia glosifikasi bagi Anda yang ingin memperbaiki persepsi orang akan diri Anda. Oh ya, artikel yang Anda baca sekarang ini juga ditampilkan dalam majalah Gadget Indonesia edisi Agustus 2010.

RAHASIA PERTAMA: CLOTHES MAKE THE MAN. Entah itu dalam bidang karir, kehidupan sosial, atau bahkan romansa, Anda akan selalu dinilai berdasarkan penampilan Anda. Kita memang dibesarkan agar tidak menilai buku dari sampulnya, namun jujur saja itu nasihat yang sangat tidak praktis karena hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah mendapat kesempatan untuk mengenal Anda secara pribadi.

Hanya diperlukan waktu setengah sampai tiga puluh detik bagi mereka untuk menjatuhkan vonis penilaian pada diri Anda. Begitu impresi pertama itu tercipta, nyaris tidak mungkin bagi mereka untuk mengubah pikiran. Coba renungkan sejenak berapa banyak tawaran yang gagal Anda raih dan kesempatan yang lewat begitu saja karena pribadi Anda divonis berdasarkan penampilan yang kurang menarik?

Salah satu alasan utama banyak pria tampil generik, dangkal dan membosankan adalah karena mereka tidak percaya bahwa mereka layak tampil sebaliknya. Mereka tidak percaya bahwa pria juga memiliki hak yang sama untuk bermain di dunia fashion sama seperti wanita. Mereka tidak percaya bahwa pria juga dapat memakai warna-warna cerah tanpa terlihat cheesy. Mereka tidak percaya bahwa selain jaket, cardigan juga dapat mengesankan citra yang dewasa berkelas ketika dikombinasikan kemeja berdasi. Mereka tidak percaya ini dan itu, mereka takut ini dan itu. Padahal saat ini konsep dunia tentang pakaian sudah bergeser jauh dari jaman Adam dan Hawa dahulu.

Pakaian yang Anda kenakan bukan lagi sekedar alat penutup tubuh, melainkan perpanjangan dari kepribadian Anda.

Baca ulang kalimat di atas sekali lagi, kali ini dengan suara yang lantang.

Jika merasa diri keren, Anda pasti akan bersedia mengekspresikan diri itu dalam bentuk yang lebih visual. Anda tidak akan melulu bersenjatakan kaos, kemeja, dan celana berwarna gelap seperti yang menjadi kostum standar kebanyakan pria. Bayangkan seperti ini, jika Anda memiliki anak nanti, pasti Anda akan menyiapkan set pakaian yang terbaik untuknya. Anda begitu menyayanginya sehingga tidak mau dia tampil berantakan. Nah, mengapa Anda tidak melakukannya pada diri sendiri dulu mulai sekarang?

Sekali lagi, pria yang masa bodoh dengan penampilannya adalah pria yang minder. Mereka tidak merasa dirinya pantas menjadi sorotan mata semua orang. Mereka takut untuk tampil menawan dan bersembunyi dibalik alasan, "Saya lebih suka jadi be my self, dan inilah diri saya apa adanya."

Siapa yang suruh Anda menjadi orang lain?

Saya hanya menganjurkan Anda untuk mempertajam kepribadian Anda agar terlihat lebih vokal, terang, tajam, dan menyala. Bukan sekedar kebetulan kalau dalam Hitman System kita menyebut 'pria berkualitas' dengan istilah Glossy. Anda memang wajib menjadi terang dunia yang bersinar, sobat!

Bisa jadi Anda adalah pribadi yang cuek santai, namun jangan biarkan gambaran karakter itu menjadi penghambat kesuksesan Anda ketika berinteraksi dengan orang lain. Apalagi dalam lingkungan pekerjaan yang profesional dimana Anda diwajibkan untuk tampil profesional. Sama seperti itu, dalam pergaulan sosial, pria berkualitas pasti akan sadar diri untuk memilih penampilan yang berkualitas.

Perhatikan pakaian yang Anda kenakan sehari-hari, itulah gambaran sebenarnya bagaimana cara Anda memandang kualitas diri Anda sendiri. Penampilan yang asal-asalan menunjukkan kepribadian yang asal-asalan.

Anda jawab sendiri, apakah wanita senang dengan pria berkepribadian seperti itu?

Seperti sudah dijelaskan oleh Yuki dalam artikel 10 Tips Penampilan Menarik, buang jauh-jauh konsep be yourself karena yang seharusnya Anda miliki adalah be your best self, yaitu sebuah perjalanan untuk menampilkan citra diri Anda yang terbaik. Itu sebabnya Anda perlu meminta teman wanita menemani Anda berbelanja. Sebab kalaupun mereka meleset dalam memilihkan item, saya yakin itu masih akan jauh lebih bagus daripada pilihan Anda sendiri yang kemungkinan besar berkutat di model yang begitu-begitu saja.

Sadarkah bahwa rasa percaya diri Anda berbanding lurus dengan seberapa jauh Anda merepresentasikan tubuh Anda? Karena apa yang Anda kenakan bukan saja mempengaruhi persepsi orang lain, namun pertama kali jauh mempengaruhi diri Anda sendiri. Semakin sedikit energi, waktu dan biaya yang Anda berikan pada tubuh Anda, semakin Anda sulit merasa puas atau bangga terhadap diri sendiri. Kalau tidak percaya, telurusi perbedaan emosi yang dialami ketika Anda memakai sepatu baru dan sepatu lama yang sudah usang.

Fenomena di atas merupakan aplikasi dari ucapan bijak, "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Jadi saat Anda menanam banyak sekali investasi pada diri sendiri (dengan set penampilan yang terbaik), Anda semakin terkondisi untuk lebih mencintai diri sendiri. Ini juga salah satu bagian yang sudah saya jelaskan pada artikel Rahasia Struktur Pria Menarik tempo hari, yakni pentingnya memberikan atensi pada diri sendiri.

Ketika Anda berbusana busana dengan menarik, maka Anda dengan sendirinya mengalami peningkatan rasa percaya diri. Ingat bahwa busana tidak hanya terbatas pada pakaian saja, tapi keseluruhan yang kita pakai mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Keindahan penampilan busana fisik Anda kenakan akan memoles keadaan psikis Anda, karena when you look good, you feel good.

Silakan buktikan formula itu dengan memperhatikan sekeliling Anda sekarang juga. Orang-orang yang berpenampilan baik pasti memancarkan aura yang berbeda. Mata mereka seperti bersinar menatap dengan tajam. Langkah kaki mereka terlihat mantap dan penuh tujuan. Mereka duduk, berdiri dan bergerak dengan postur yang lebih berkharisma. Mereka yang tampil demikian nyaris otomatis lebih bersemangat untuk meraih sukses dibandingkan orang lainnya yang cenderung tidak memperhatikan penampilan mereka. 

Itu sebabnya ada istilah fashion statement, karena apa yang Anda kenakan (termasuk cara mengenakannya) akan menciptakan pesan dan situasi yang berbeda-beda. Wanita juga akan memperlakukan Anda berbeda-beda sesuai dengan gaya penampilan Anda. Silakan bereksperimen dengan satu trik sederhana ini Seusai jam kantor, lepaskan satu kacing teratas (atau dua jika dada Anda tidak terlalu berbulu) kemeja Anda. Rasakan bagaimana dengan sendirinya Anda merasa terdorong jadi santai, berani, sekaligus seksi, serta wanita bersikap lebih bersahabat dan banyak tersenyum dibanding sebelumnya.

RAHASIA KEDUA: KNOW WHO YOU ARE. Kenali diri Anda sendiri, luar dan dalam, maka Anda dapat dengan mudah memilih jenis pakaian seperti apa yang dibutuhkan. Perhatikan bahwa setiap set fashion wanita dirancang sedemikian rupa untuk menonjolkan estetika sensualitas, itu karena mereka semenjak usia dini terbiasa untuk embracing and actualizing esensi wanita feminin.

Jadi seni mengenali diri dimulai dengan memahami esensi dari seorang pria: yakni maskulinitas atau kejantanan. Anda perlu mengaktualisasikan esensi tersebut pada jenis baju, celana, sepatu, dan asesoris lainnya yang menempel pada tubuh. Caranya adalah cek lemari pakaian Anda dan sisihkan seluruh set pakaian yang sekedar berfungsi sebagai alat penutup tubuh, tidak terlihat jantan, atau apapun yang tidak membuat Anda tersenyum bangga ketika melihat refleksi di kaca. Kalau perlu, buang saja tumpukan itu agar Anda terpaksa membeli set yang baru.

Saya biasa melarang Anda untuk membaca tips percintaan di majalah karena cenderung membuat Anda lossy. Namun khusus untuk penampilan, Anda justru wajib meluangkan waktu untuk memperhatikan tips-tips dari majalah dan internet. Salah satu referensi awal yang bisa ditelusuri adalah situs Fashion Pria yang kebetulan dikelola oleh alumni Hitman System. Pelajari seluk beluk sebisa mungkin sambil terus selami sisi maskulinitas Anda hingga bersinar.

Latihan visualisasi berikut juga dapat membantu: pejamkan mata, bayangkan diri Anda sebagai sosok maskulin yang sempurna, dan renungkan jenis penampilan seperti apa yang cocok dipakai oleh pria yang seperti itu. Lalu mulai sekarang penuhi lemari Anda dengan set pakaian dan atribut yang sesuai dengan imajinasi Anda tersebut.

Pengenalan akan diri internal di atas juga perlu dilengkapi dengan pemahaman diri eksternal alias bentuk fisik Anda. Luangkan lebih banyak waktu di depan cermin setiap harinya agar Anda bisa mengenali dengan pasti properti tubuh Anda, terutama bentuk dan ukurannya. Semakin sering melakukannya, semakin Anda merasa layak untuk menyayanginya; persis pepatah "tidak kenal, maka tidak sayang."

Jika Anda tidak sepenuhnya menyayangi tubuh Anda, wajar saja Anda merasa aneh dan canggung ketika dihadapkan dengan ratusan baju yang berjejer, ditambah lagi ketika sang pramuniaga datang menghampiri. Penampilan terbaik bukanlah tentang gaya yang sedang populer, rancangan desainer ternama, apalagi harga yang termahal. Penampilan terbaik adalah set item yang sedemikian pas dengan tubuh sehingga seolah-olah ia tercipta secara khusus untuk Anda seorang. Dan jelas untuk bisa menemukannya, Anda perlu dedikasi waktu yang tidak sedikit.

Jujur, pernahkah Anda menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit berada dalam sebuah toko? Jarang sekali, bukan? Nah, tidak heran Anda jarang berhasil menemukan busana yang optimal untuk diri Anda!

Kebanyakan pria tidak menyadari (boro-boro menyukai) properti tubuhnya sendiri, dan masih harus diperparah lagi dengan kebiasaan buruk ini ketika berbelanja: sekedar mengangkat baju yang biasanya tergantung pada hanger, dilihat bagian depan dan belakang sambil membayangkan kalau dipakai, lalu ditaruh kembali ke rak. Semua dilakukan dengan sangat cepat, seolah-olah setiap toko membatasi durasi waktu berkeliling melihat seluruh koleksinya dan bahkan menagih biaya jika Anda menggunakan fitting room.

Lalu sebagai tambahan, biasakan juga mengajak teman wanita atau kekasih Anda untuk menemani Anda berbelanja. Perhatikan komentar dan pilihan kostum yang mereka rekomendasi, sekalipun Anda pribadi merasa agak kurang setuju dengannya. Sering kali ketidaknyamanan Anda bukan karena baju tersebut tidak cocok, melainkan hanya karena Anda baru pertama kali membuka diri untuk jenis item yang direkomendasikan. Perasaan-perasaan seperti "Ah, ini bukan saya banget..." atau "Saya tidak pede pakai barang seperti ini..." akan hilang dengan sendirinya seiring waktu. Jadi jangan memilih pakaian karena ia terasa nyaman saja, pastikan ia memang benar-benar membuat Anda tampil lebih baik.

Tulisan ini tidak menuntun Anda bagaimana menjadi pria yang sok fashionable, karena mengutip Quentin Crisp, "Fashion is what you adopt when you don't know who you are." Tulisan ini juga tidak untuk mengubah Anda untuk menjadi seorang metroseksual, apalagi fashionista. Saya hanya mengajak Anda untuk memperlebar glosifikasi dan mindset Anda tentang pentingnya menjaga penampilan dengan baik.

Sebagai pria dewasa, Anda patut menyadari tanggung jawab menata penampilan diri, karena dunia memperlakukan Anda sebagaimana tampilan citra diri Anda pada mereka. Dan jika Anda ingin mempelajari penampilan diri secara lebih mendalam, Anda bisa mengikuti HS Online Training dan Live Workshop, karena kami memberikan materi fashion terbaik di dua kelas tersebut.


Terang Dunia,


pengertian fashion



Meskipun Fashion memiliki definisi berbeda-beda, tetapi pengertian fashion pada prinsipnya tetap tidak terpisah dari perubahan selera masyarakat di jamannya.

 

Definisi fashion boleh dirumuskan dengan kalimat berbeda, tapi pengertiannya tidak berbeda sejak awal abad 20  hingga memasuki era global. Pada prinsipnya fashion tidak terpisahkan dari faktor-faktor selera masyarakat tertentu yang dipengaruhi oleh perkembangan sosial budaya tertentu dan dalam rentang waktu tertentu.
Hampir setiap orang pernah membicarakan tentang fashion, apakah itu fashion show, fashion exhibition atau tentang perangkat fashion yang sedang in dijual di pasaran. Tetapi ketika ditanyakan apa definisi fashion yang sebenarnya, maka akan kesulitan untuk menjelaskan, bahkan juga mereka yang memiliki profesi terkait dengan dunia fashion.
Fashion sendiri merupakan kata yang lebih populer dan lebih akrab bagi kebanyakan masyarakat Indonesia dibandingkan kata serapannya: fesyen, meskipun menurut Wikipedia padanan fashion dalam bahasa Indonesia adalah mode, banyak orang yang cenderung mengasosiasikannya dengan pakaian atau perangkat yang melengkapi pakaian.
Berdasarkan berbagai definisi dan uraian tentang pengertian fashion tersebut, secara sederhana fashion bisa disimpulkan sebagai kecenderungan untuk mengikuti gaya tertentu yang sedang digemari pada saat tertentu dan akan berlaku dalam jangka waktu tertentu. Fashion dicerminkan oleh pakaian dan kelengkapannya yang memiliki desain tertentu yang disukai sebagian besar masyarakat.
Fashion tidak hanya memberikan seseorang model pakaian tertentu yang membuatnya merasa lebih nyaman, tetapi juga bisa mencerminkan dirinya melalui pakaian yang dia kenakan. Bahkan seseorang bisa menjadi apa saja sesuai dengan pakaian yang dipilihnya. Faktor perkembangan teknologi industri yang memungkinkan diproduksi bahan-bahan perangkat fashion yang lebih canggih dan peran teknologi informasi menjadi faktor yang sangat mempengaruhi perubahan-perubahan fashion.
Hasil gambar untuk fashion wanita pria             Hasil gambar untuk fashion wanita pria